Pertanyaan ini jarang kita kemukakan baik sebagai cendekiawan, pengusaha, politisi maupun pemerintah.Dalam program pemerintah, program partai politik, program ahli ekonomi, program para insinyur, program KADIN dan HIPMI tidak ada satupun yang secara jelas berbicara mengenai peningkatan produktivitas untuk pengentasan kemiskinan bangsa ini, sehingga seolah olah tidak ada yang peduli. Kalau ada program pemerintah hanya merupakan program yang reakrif sifatnya, seperti swa sembada kedelai setelah harganya melonjak.
Mengapa bangsaku miskin?
Bangsaku miskin karena kemampuan memproduksi barang sangat rendah nilai tambahnya. Karena produktivitasnya rendah, maka pendapatannya juga rendah sehingga menjadi miskin. Dalam kondisi yang miskin ini, bangsaku disuruh membayar harga barang barang berdasarkan standar harga dunia luar yang kaya, sehingga makin sempurnalah kemiskiinan itu.
Di luar sana, orang berlomba lomba meningkatkan produktivitas dengan mengembangkan teknologi, sedangkan kita masih setia berkutat dengan cara yang sudah jelas rendah produktivitasnya, yaitu industri kerajinan, yang miskin teknologi.
Produktivitas sebuah bangsa ditentukan oleh kemampuan industrinya dalam menghasilkan nilai tambah yang tinggi. Kemampuan menghasilkan nilai tambah yang tinggi ditentukan oleh CARA industri berproduksi. Sangat disayangkan pembuat kebijakan industri kita, tidak pernah melihat industri dari CARA mereka berproduksi, tetapi dari hasil produksinya, seperti industri mobil, industri pertambangan, industri pertanian atau dengan membedakannya dalam skala usaha, seperti usaha mikro, usaha kecil, usaha sedang dan usaha besar, dimana penggolongan ini tidak ada sangkut pautnya dengan produktivitas. Sedihnya lagi usaha industri, perdagangan dan jasa, disatukan dalam kelompok yang lebih umum, sehingga ada kesan ngaco, yaitu sektor riil.
Kelakuan kita yang tidak pernah melihat industri dari CARA berproduksi, menghasilkan gambaran kita tentang industri kita menjadi tidak tepat, sehingga kita mendapat kesulitan dalam memberdayakannya. Akibatnya, industri kita jadi ketinggalan jaman dan akhirnya menjadi tidak kompatibel dengan industri dunia, sehingga menjadi aneh.
Dunia, sejak 250 tahun yang lalu sudah merobah CARA berindustri yang kita kenal dengan nama REVOLUSI INDUSTRI.
Apa yang dirobah orang pada waktu revolusi industri?
Revolusi industri merobah CARA berproduksi barang yang tadinya dilakukan secara handicraft (yang sekarang masih kita lakukan), dirobah menjadi CARA manufaktur(kita masih belum melakukannya sekarang), dimana mesin (teknologi) yang menjadi andalan utama.
Perbandingan kemampuan mesin dan orang dapat dilukiskan sebagai berikut: Manusia tidak bisa terbang, tetapi mesin buatan manusia dapat menerbangkan ratusan manusia sekaligus.
Para pelaksana revolusi industri itu sekarang, menjadi negara negara kaya dan menguasai perekonomian dunia, menjadikan kita tetap miskin.
Saat ini ada sekitar 48 juta UKM binaan pemerintah menghasilkan 2,3 triliun per tahun. Jumlah ini dapat dihasilkan oleh hanya 2.000 unit UKM binaan Astra karena mereka adalah manufakturer.
Cerita diatas menggambarkan bagaimana rendahnya produktivitas bangsa kita ini sekarang. Sudah tentu harus ada perbaikan segera untuk menghentikan proses pemiskinan ini
Usaha yang disarankan adalah menukar CARA berproduksi bangsa ini dari cara handicraft ke CARA manufaktur atau dengan kata lain Indonesia harus segera melakukan REVOLUSI INDUSTRI walaupun sudah terlambat. Handicraft dipindahkan dari ranah ekonomi ke ranah kebudayaan, pendidikan dan parawisata dan untuk urusan ekonomi kita hanya mengenal manufaktur saja.
Bangsa Jepang sebagai kampiun industri manufaktur dunia, sudah mulai menjalankan program MONOZUKURI, yang dalam bahasa Inggerisnya " dedication to skilled manufacturing" disosialisasikan mulai dari taman kanak kanak, dan kita masih buta dalam soal itu.
Anda sudah ingin melakukan revolusi industri? Dirikanlah industri manufaktur berbasis sariah! Tidak tahu CARAnya, berkonsultasilah dengan blog kami. Kami tunggu.
17 Februari 2008
10 Februari 2008
BRAVO SBY
Pada awal tahun 2008 ini Presiden SBY membuat sebuah keputusan yang sangat strategis yaitu memutuskan bahwa semua kebutuhan TNI akan dibuat dalam negeri.
Keputusan ini memberi dampak yang luas, bukan saja terhadap kemandirian TNI dan juga bukan saja pada penghematan devisa tetapi ada yang lebih penting lagi yaitu, merangsang pertumbuhan industri manufaktur dalam negeri.
Peralatan TNI tersebut diatas merupakan produk dari industri manufaktur dan bukan industri handicraft. Ini berarti jika kita mau memproduksinya didalam negeri harus oleh lembaga industri manufaktur pula.
Banyak orang Indonesia belum paham watak dari industri manufaktur, karena kita tidak memiliki memori sedikitpun tentang revolusi industri yang melahirkan industri manufaktur.
Industri manufaktur adalah proses pembuatan barang yang dimulai dari membuat komponen yang presisi, lalu dirakit, sehingga harus dilaksanakan dalam kondisi disiplin yang ketat, sebab segala kegiatan sudah terpolakan dalam sebuah program yang tidak dapat diimprovisasi seperti nyanyian.
Untuk mencapaui tingkat disiplin tersebut diatas, diperlukan sebuah organisasi tertentu yang menjamin terselenggaranya segala ketepatan kegiatan diatas. Organissasi ini harus memiliki garis komaando yang tegas, sehingga dengan pekerja yang segitu banyak jumlahnya, menjadi seirama dalam menghasilkan produk akhir. Proses produksi akan kacau bila ada sebahagian dari rangkaian kegiatan yang saling terkait itu, macet.
Kondisi ini mengingatkan kita terhadap organisasi tentara. Kedua type organisasi ini mirip karena memiliki misi yan similar.
Industri Jepang saat ini merupakan industri yang termoderen yang sudah terbukti di lapangan, yang perlu kita jadikan acuan.
Bila kita berkunjung ke sebuah pabrik di Jepang, kesan militer terasa sangat menyolok. Setiap pagi sebelum pekerjaan dimulai, harus didahului senam, dan kemudian apel pagi untuk mengingatkan lagi tekad bersama yang biasanya dalam bentuk prinsip perusahaan, kalau di TNI barangkali sama dengan Sapta Marga.
Didalam pabrik setiap pejabat disebutkan pangkat dan namanya. Bila Presdirnya bernama Harada maka dia dipanggil dengan nama panggilan Harada Saco, kemudian Tanaka Buco untuk manajer dan Matsumoto kaco untuk kepala regu.Ini mirip dalam ketentaraa dimana orang disebut nama dan pangkatnya bersamaan, yang untuk negeri kita, jika diterapkan dalam kehidupan di luar ketentaraan terasa aneh. Pada saat makan siang makanan disediakan dalam wadah omprengan untuk semua. Pada akhir jam kerja diadakan lagi apel sore.
Kalau kita menengok kedalam negeri, kelompok masyarakat yang memiliki organisasi yang punya disiplin tinggi semacam itu, hanyalah tentara. Organisasi semacam ini tidak dimiliki oleh politisi, pedagang, petani apalagi pengrajin.
Kesimpulan pertama yang dapat ditarik dari tulisan ini adalah, secara potensial, kelompok manyarakat tentaralah yang memiliki jiwa yang cocok untuk menyelenggarakan industri manufaktur, sebuah budaya baru buat bangsa kita. Lelompok masyrakat lain harus dapat membentuk sendiri type organisasi yang cocok dengan membench mark organisasi yang sesuai dengan tuntutan industri manufaktur.
Kesimpulan kedua, bila TNI menyadari mereka memiliki sifat potensial sebagai pelaksana industri manufaktur, sudah harus mengkondisikannya mulai saat ini agar dapat memanfaatkan kesempatan yang dibuka oleh keputusan Presiden ini. Hal ini terpulang kepada pimpinan TNI untuk mengambil langkah langkah penyesuaian agar sifat potensial ini dapat diaktualkan dalam kegiatan industri manufaktur.
Bapak Presiden, saya berdoa mudah mudahan ini akan merupakan awal dari pelaksanaan Revolusi Industri Indonesia. Amin
Keputusan ini memberi dampak yang luas, bukan saja terhadap kemandirian TNI dan juga bukan saja pada penghematan devisa tetapi ada yang lebih penting lagi yaitu, merangsang pertumbuhan industri manufaktur dalam negeri.
Peralatan TNI tersebut diatas merupakan produk dari industri manufaktur dan bukan industri handicraft. Ini berarti jika kita mau memproduksinya didalam negeri harus oleh lembaga industri manufaktur pula.
Banyak orang Indonesia belum paham watak dari industri manufaktur, karena kita tidak memiliki memori sedikitpun tentang revolusi industri yang melahirkan industri manufaktur.
Industri manufaktur adalah proses pembuatan barang yang dimulai dari membuat komponen yang presisi, lalu dirakit, sehingga harus dilaksanakan dalam kondisi disiplin yang ketat, sebab segala kegiatan sudah terpolakan dalam sebuah program yang tidak dapat diimprovisasi seperti nyanyian.
Untuk mencapaui tingkat disiplin tersebut diatas, diperlukan sebuah organisasi tertentu yang menjamin terselenggaranya segala ketepatan kegiatan diatas. Organissasi ini harus memiliki garis komaando yang tegas, sehingga dengan pekerja yang segitu banyak jumlahnya, menjadi seirama dalam menghasilkan produk akhir. Proses produksi akan kacau bila ada sebahagian dari rangkaian kegiatan yang saling terkait itu, macet.
Kondisi ini mengingatkan kita terhadap organisasi tentara. Kedua type organisasi ini mirip karena memiliki misi yan similar.
Industri Jepang saat ini merupakan industri yang termoderen yang sudah terbukti di lapangan, yang perlu kita jadikan acuan.
Bila kita berkunjung ke sebuah pabrik di Jepang, kesan militer terasa sangat menyolok. Setiap pagi sebelum pekerjaan dimulai, harus didahului senam, dan kemudian apel pagi untuk mengingatkan lagi tekad bersama yang biasanya dalam bentuk prinsip perusahaan, kalau di TNI barangkali sama dengan Sapta Marga.
Didalam pabrik setiap pejabat disebutkan pangkat dan namanya. Bila Presdirnya bernama Harada maka dia dipanggil dengan nama panggilan Harada Saco, kemudian Tanaka Buco untuk manajer dan Matsumoto kaco untuk kepala regu.Ini mirip dalam ketentaraa dimana orang disebut nama dan pangkatnya bersamaan, yang untuk negeri kita, jika diterapkan dalam kehidupan di luar ketentaraan terasa aneh. Pada saat makan siang makanan disediakan dalam wadah omprengan untuk semua. Pada akhir jam kerja diadakan lagi apel sore.
Kalau kita menengok kedalam negeri, kelompok masyarakat yang memiliki organisasi yang punya disiplin tinggi semacam itu, hanyalah tentara. Organisasi semacam ini tidak dimiliki oleh politisi, pedagang, petani apalagi pengrajin.
Kesimpulan pertama yang dapat ditarik dari tulisan ini adalah, secara potensial, kelompok manyarakat tentaralah yang memiliki jiwa yang cocok untuk menyelenggarakan industri manufaktur, sebuah budaya baru buat bangsa kita. Lelompok masyrakat lain harus dapat membentuk sendiri type organisasi yang cocok dengan membench mark organisasi yang sesuai dengan tuntutan industri manufaktur.
Kesimpulan kedua, bila TNI menyadari mereka memiliki sifat potensial sebagai pelaksana industri manufaktur, sudah harus mengkondisikannya mulai saat ini agar dapat memanfaatkan kesempatan yang dibuka oleh keputusan Presiden ini. Hal ini terpulang kepada pimpinan TNI untuk mengambil langkah langkah penyesuaian agar sifat potensial ini dapat diaktualkan dalam kegiatan industri manufaktur.
Bapak Presiden, saya berdoa mudah mudahan ini akan merupakan awal dari pelaksanaan Revolusi Industri Indonesia. Amin
09 Februari 2008
APAKAH INDUSTRI MANUFAKTUR BERBASIS SYARIAH ?
Industri manufaktur adalah cara baru memproduksi barang yang ditemukan sewaktu diadakan revolusi industri.
Pada mulanya di Inggeris ditemukan cara mengaplikasikan mesin uap untuk menggerakkan alat produksi tekstil, menggantikan kincir air dan tangan manusia. Penggunaan mesin uap ini meluas bukan saja pada industri, tapi juga pada alat transport seperti kapal dan kereta api.
Mekanisasi ini kemudian menjalar ke Eropa dan Amerika. Karena pusat pelaksanaan revolusi dimulai dari Inggeris, maka yangh menerima perobahan ini sebagai tangan pertama adalah bangsa bangsa yang berbahasa Inggeris seperti Amerika Serikat, Kanada dan kemudian Australia dan Selandia Baru.
Di Eropa, Perancis, Jerman dan negara Skandinavia yang segera ketularan revolusi ini. Di Jerman berkembang produksi baja, bahan kimia dan tenaga listrik.
Manufaktur, dikembangkan di Amerika Serikat dipermudah dengan gitemukannya alat kalibrasi yang mampu mengukur sampai seperseribu mil;imeter. Produk dirancang dengan menguraikannya dalam bentuk komponen lalu komponen itu diproduksi dulu secara presisi sehingga mudah disatukan dalam proses perakitan.
Cara manufaktur inilah yang memungkinkan terciptanya produk produk baru, dimulai dengan bedil, lalu mesin jahit dan kemudian mesin pembuat mesin, dan terus berkembang sampai produk yang terdiri atas ratusan bahkan ribuan komponen, seperti pesawat terbang, televisi bahkan pesawat ruang angkasa dan roket. Cara ini memungkinkan produk masaal dengan nilai tambah yang tinggi. Dalam merancang sebuah produk diperlukan kemahiran merekayasa produk, rekayasa teknologi, rekayasa proses, rekayasa manajemen, rekayasa pembiayaan dan rekayasa pemasaran.
Bangsa kita belum memiliki kesadaran tentang kepemilikan kemampuan rekayasa ini, sehingga belum dijadikan sebuah disiplin ilmu terpadu yang kita sebut rekayasa manufaktur.
Karena kita belum mahir dalam manufaktur, maka perlu dijalankan langkah langkah kearah itu. Langkah pertama adalah merobah tatapikir handicraft yang sudah mengakar dalam memori kita dengan tatapikir manufaktur.
Dalam berproduksi secara handicraft, barang dibuat satu per satu oleh satu orang, sehingga produktivitasnya sangat rendah. Pertimbangan memproduksi sesuatu barang, ditentukan oleh tersedianya bahan baku yang melimpah dan ketrampilan perorangan yang mengolahnya, dan tidak dimulai dengan apa yang dibutuhkan pasar, sehingga menemui kesulitan dalam pemasaran. Inilah inti permasaalahan industri kerajinan kita: sulit laku.
Tatapikir manufaktur, memproduksi barang yang sangat dibutuhkan oleh pasar, karena memiliki kemampuan memproduksi barang apa saja. Persaingan di pasar sangat ketat dan hanya perusahaan yang makin mampu mengefisienkan dirinya yang dapat bertahan. Cara bertahan atau masuk kedalam persaingan ketat ini didekati dengan cara ATM, yaitu amati, tiru lalu modifikasi. Pertama dipilih barang yang paling laku yang mungkin kita produksi dengan jumlah komponen seminimal mungkin. Sesudah itu kita tiru cara pembvuatannya. Pengalaman dari meniru ini dapat kita pakai untruk memodifikasi bentuk, kegunaan serta biaya pembuatannya. Bila kita dapat melakukan pembuatan yang lebih menarik bentuuknya, lebih murah harganya dan bwertambah nilai pakainya, kita sudah dapat menyaingi produk yang sedang laku di pasaran.
Ada cara lain memulai usaha dari pasar yaitu menjadi sub kontraktor dari sebuah produk manufaktur. Cara ini membebaskan kita dari keharusan merekayasa cara produksi, sebab kita tinggal mengikuti proses yang telah ada.
Pada industri manufaktur Jepang, kebutuhan akan sub kontraktor ini sangat niscaya, karena dengan menyerahkan sebahagian pekerjaan pembuatan komponen kepada perusahaan yang lebih kecil mereka akan dapat menekan biaya produksi, karena biaya perusahaan kecil relatif lebih kecil dari perusahaan besar terutama karena perbedaan dalam biaya overhead. Ini sudah dipraktekkan pada usaha pembinaan UKM di Astra.
Kesempatan menjadi sub kontraktor pada industri Jepang ini masih sangat luas mengingat komponen kenderaan bermotor dan elektronika pabrik pabrik Jepang di Indonesia, lebih dari separuhnya masih diimpor.
Bila anda suatu hari sudah menjadi seorang pengusaha industri manufaktur, anda harus segera mengelola industri anda berdasarkan syariah, manajemen industri yang islami, sebab industri yang islami inilah yang membuat Jepang dapat mengungguli industri barat pada saat ini.
Manajemen industri manufaktur berdasarkan syariah ini bertumpu pada pondasi seperti dibawah ini:
1. Perusahaan industri diniatkan bukan untuk memupuk kekayaan segelintir orang, tetapi berbagi hasil dengan mitra kerja untuk jadi mankmur bersama. Dikelola karyawan untuk kesejahteraan karyawan sendiri. Cara ini menghasilkan pekerja yang termotivasi tinggi.
2. Segala kegiatan dala industri, tiada lain hanya untuk menggapai ridha Allah, sebagai pelaksanaan tugas khalifatullah fil ard dalam memakmurkan alam semesta.
3Untuk mencapai tujuan diatas, maka pelaksanaan industri adalah melayani langganan secara all out, dengan mengusahakan afkir yang makin kecil sampai ke zero defect, menekan biaya produksi secxara cerdik dan mengenali kemampuan sendiri agar dapat menepati janji penyerahan barang hasil produksi dalam wktu, jumlah dan mutu yang tepat sesuai janji.
4. Memilih produk yang sangat dibutuhkan pasar dan yang halal.
5. Mengharamkan memasuki industri yang berpotensi merusak segalanya baik lingkungan, akhlak, kesehatan dan lain lain.
6. Taat mematuhi semua peraturan pemerintah dan adat kebiasaan masyarakat yang islami.
Dengan menjalankan industri manufaktur berbasis syariah ini, insya Allah anda disamping mendapatkan keuntrungan materi, juga mendapat pahala dari Allah.
Bagi orang yang non muslim tidak perlu ada kekhawatiran, karena yang dijalankan adalah sistim yang islami, bukan pe nganutan agama Islam. Jepang sudah menjalankan sistim sejenis ini tetapi tidak menjadi pemeluk agama Islam.
Masih ada persoalan yang harus dihadapi yaitu masaalah pembiayaan dan pemasaran.
Dalam masaalah pembiayaan dapat bersinergi dengan sistim perbankan syariah. Kemungkinan ini sangat layak mengingat kedua sistim ini sangat kompatibel. Tambahan pula, perbankan syariah membutuhkan usaha yang akan dibiayai bila ingin jadi besar.
Untuk pemasaran, pemerintah harus turun tangan membentuk chain store untuk produk IMBS ini, diseluruh kabupaten di seluruh Indonesia. Biayanya dapat diambil dari alokasi biaya yang diperuntukkan pengembangan industri kerajinan yang tidak menampakkan pengaruh pada peridustrian nasional, termasuk biaya untuk Dewan Kerajinan Nasional dari Departemen Perindustrian dan bantuan lain untuk pengrajin dari Kementerian Koperasi dan UKM.
Tahu 2007 ada perjanjian Indonesia -Jepang tentang Economic Partnership Agreemant yang dapat dipakai untuk menjalin kerjasama antara sub kontraktor Jepang untuk bermitra dengan calon sub kontraktor Indonesia, yang karena sudah menerapkan IMBS maka akan menjadi kompatibel sesamanya.
Tahun 2008 ini, Presiden SBY memutuskan bahwa kebutuhan TNI akan dipasok dari dalam negeri, akan merupakan lahan yang paling subur untuk membiakkan IMBS.
Agar usaha mensukseskan IMBS ini dapat berjalan makin lama makin maju, perlu ada kumpulan orang yang berdedikasi tinggi untuk bersatu dalam sebuah wadah. Wadah ini saya usulkan diberi nama KOINMAS, kependekan dari Komunitas Insan Industri Manufaktur Syariah.
Bila anda sesudah menyimak apa yang ada dalam blog ini dan ada yang perlu penjelasan lebih lanjut, jangan segan segan menghubungi kami dengan segera, dan kami akan berusaha menjawab selengkap mungkin sampai anda puas. Bila ilmu kami masih kurang mendukung untuk menjawab pertanyaan anda, saya akan menngundang orang yang akhli dalam kasus yang anda tanyakan, atau siapa tahu, banyak orang yang mau menyumbang pikiran dalam hal itu.
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pada mulanya di Inggeris ditemukan cara mengaplikasikan mesin uap untuk menggerakkan alat produksi tekstil, menggantikan kincir air dan tangan manusia. Penggunaan mesin uap ini meluas bukan saja pada industri, tapi juga pada alat transport seperti kapal dan kereta api.
Mekanisasi ini kemudian menjalar ke Eropa dan Amerika. Karena pusat pelaksanaan revolusi dimulai dari Inggeris, maka yangh menerima perobahan ini sebagai tangan pertama adalah bangsa bangsa yang berbahasa Inggeris seperti Amerika Serikat, Kanada dan kemudian Australia dan Selandia Baru.
Di Eropa, Perancis, Jerman dan negara Skandinavia yang segera ketularan revolusi ini. Di Jerman berkembang produksi baja, bahan kimia dan tenaga listrik.
Manufaktur, dikembangkan di Amerika Serikat dipermudah dengan gitemukannya alat kalibrasi yang mampu mengukur sampai seperseribu mil;imeter. Produk dirancang dengan menguraikannya dalam bentuk komponen lalu komponen itu diproduksi dulu secara presisi sehingga mudah disatukan dalam proses perakitan.
Cara manufaktur inilah yang memungkinkan terciptanya produk produk baru, dimulai dengan bedil, lalu mesin jahit dan kemudian mesin pembuat mesin, dan terus berkembang sampai produk yang terdiri atas ratusan bahkan ribuan komponen, seperti pesawat terbang, televisi bahkan pesawat ruang angkasa dan roket. Cara ini memungkinkan produk masaal dengan nilai tambah yang tinggi. Dalam merancang sebuah produk diperlukan kemahiran merekayasa produk, rekayasa teknologi, rekayasa proses, rekayasa manajemen, rekayasa pembiayaan dan rekayasa pemasaran.
Bangsa kita belum memiliki kesadaran tentang kepemilikan kemampuan rekayasa ini, sehingga belum dijadikan sebuah disiplin ilmu terpadu yang kita sebut rekayasa manufaktur.
Karena kita belum mahir dalam manufaktur, maka perlu dijalankan langkah langkah kearah itu. Langkah pertama adalah merobah tatapikir handicraft yang sudah mengakar dalam memori kita dengan tatapikir manufaktur.
Dalam berproduksi secara handicraft, barang dibuat satu per satu oleh satu orang, sehingga produktivitasnya sangat rendah. Pertimbangan memproduksi sesuatu barang, ditentukan oleh tersedianya bahan baku yang melimpah dan ketrampilan perorangan yang mengolahnya, dan tidak dimulai dengan apa yang dibutuhkan pasar, sehingga menemui kesulitan dalam pemasaran. Inilah inti permasaalahan industri kerajinan kita: sulit laku.
Tatapikir manufaktur, memproduksi barang yang sangat dibutuhkan oleh pasar, karena memiliki kemampuan memproduksi barang apa saja. Persaingan di pasar sangat ketat dan hanya perusahaan yang makin mampu mengefisienkan dirinya yang dapat bertahan. Cara bertahan atau masuk kedalam persaingan ketat ini didekati dengan cara ATM, yaitu amati, tiru lalu modifikasi. Pertama dipilih barang yang paling laku yang mungkin kita produksi dengan jumlah komponen seminimal mungkin. Sesudah itu kita tiru cara pembvuatannya. Pengalaman dari meniru ini dapat kita pakai untruk memodifikasi bentuk, kegunaan serta biaya pembuatannya. Bila kita dapat melakukan pembuatan yang lebih menarik bentuuknya, lebih murah harganya dan bwertambah nilai pakainya, kita sudah dapat menyaingi produk yang sedang laku di pasaran.
Ada cara lain memulai usaha dari pasar yaitu menjadi sub kontraktor dari sebuah produk manufaktur. Cara ini membebaskan kita dari keharusan merekayasa cara produksi, sebab kita tinggal mengikuti proses yang telah ada.
Pada industri manufaktur Jepang, kebutuhan akan sub kontraktor ini sangat niscaya, karena dengan menyerahkan sebahagian pekerjaan pembuatan komponen kepada perusahaan yang lebih kecil mereka akan dapat menekan biaya produksi, karena biaya perusahaan kecil relatif lebih kecil dari perusahaan besar terutama karena perbedaan dalam biaya overhead. Ini sudah dipraktekkan pada usaha pembinaan UKM di Astra.
Kesempatan menjadi sub kontraktor pada industri Jepang ini masih sangat luas mengingat komponen kenderaan bermotor dan elektronika pabrik pabrik Jepang di Indonesia, lebih dari separuhnya masih diimpor.
Bila anda suatu hari sudah menjadi seorang pengusaha industri manufaktur, anda harus segera mengelola industri anda berdasarkan syariah, manajemen industri yang islami, sebab industri yang islami inilah yang membuat Jepang dapat mengungguli industri barat pada saat ini.
Manajemen industri manufaktur berdasarkan syariah ini bertumpu pada pondasi seperti dibawah ini:
1. Perusahaan industri diniatkan bukan untuk memupuk kekayaan segelintir orang, tetapi berbagi hasil dengan mitra kerja untuk jadi mankmur bersama. Dikelola karyawan untuk kesejahteraan karyawan sendiri. Cara ini menghasilkan pekerja yang termotivasi tinggi.
2. Segala kegiatan dala industri, tiada lain hanya untuk menggapai ridha Allah, sebagai pelaksanaan tugas khalifatullah fil ard dalam memakmurkan alam semesta.
3Untuk mencapai tujuan diatas, maka pelaksanaan industri adalah melayani langganan secara all out, dengan mengusahakan afkir yang makin kecil sampai ke zero defect, menekan biaya produksi secxara cerdik dan mengenali kemampuan sendiri agar dapat menepati janji penyerahan barang hasil produksi dalam wktu, jumlah dan mutu yang tepat sesuai janji.
4. Memilih produk yang sangat dibutuhkan pasar dan yang halal.
5. Mengharamkan memasuki industri yang berpotensi merusak segalanya baik lingkungan, akhlak, kesehatan dan lain lain.
6. Taat mematuhi semua peraturan pemerintah dan adat kebiasaan masyarakat yang islami.
Dengan menjalankan industri manufaktur berbasis syariah ini, insya Allah anda disamping mendapatkan keuntrungan materi, juga mendapat pahala dari Allah.
Bagi orang yang non muslim tidak perlu ada kekhawatiran, karena yang dijalankan adalah sistim yang islami, bukan pe nganutan agama Islam. Jepang sudah menjalankan sistim sejenis ini tetapi tidak menjadi pemeluk agama Islam.
Masih ada persoalan yang harus dihadapi yaitu masaalah pembiayaan dan pemasaran.
Dalam masaalah pembiayaan dapat bersinergi dengan sistim perbankan syariah. Kemungkinan ini sangat layak mengingat kedua sistim ini sangat kompatibel. Tambahan pula, perbankan syariah membutuhkan usaha yang akan dibiayai bila ingin jadi besar.
Untuk pemasaran, pemerintah harus turun tangan membentuk chain store untuk produk IMBS ini, diseluruh kabupaten di seluruh Indonesia. Biayanya dapat diambil dari alokasi biaya yang diperuntukkan pengembangan industri kerajinan yang tidak menampakkan pengaruh pada peridustrian nasional, termasuk biaya untuk Dewan Kerajinan Nasional dari Departemen Perindustrian dan bantuan lain untuk pengrajin dari Kementerian Koperasi dan UKM.
Tahu 2007 ada perjanjian Indonesia -Jepang tentang Economic Partnership Agreemant yang dapat dipakai untuk menjalin kerjasama antara sub kontraktor Jepang untuk bermitra dengan calon sub kontraktor Indonesia, yang karena sudah menerapkan IMBS maka akan menjadi kompatibel sesamanya.
Tahun 2008 ini, Presiden SBY memutuskan bahwa kebutuhan TNI akan dipasok dari dalam negeri, akan merupakan lahan yang paling subur untuk membiakkan IMBS.
Agar usaha mensukseskan IMBS ini dapat berjalan makin lama makin maju, perlu ada kumpulan orang yang berdedikasi tinggi untuk bersatu dalam sebuah wadah. Wadah ini saya usulkan diberi nama KOINMAS, kependekan dari Komunitas Insan Industri Manufaktur Syariah.
Bila anda sesudah menyimak apa yang ada dalam blog ini dan ada yang perlu penjelasan lebih lanjut, jangan segan segan menghubungi kami dengan segera, dan kami akan berusaha menjawab selengkap mungkin sampai anda puas. Bila ilmu kami masih kurang mendukung untuk menjawab pertanyaan anda, saya akan menngundang orang yang akhli dalam kasus yang anda tanyakan, atau siapa tahu, banyak orang yang mau menyumbang pikiran dalam hal itu.
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
27 Januari 2008
Peranan perbankan syariah dalam mengembangkan industri manufaktur berbasis syariah
Perbangkan syariah berkeinginan keras untuk memperbesar pangsa pasar dalam sistim perbankan nasional.
Sesuai dengan wataknya yang menyediakan pembiayaan dan bukan kredit berbunga, berhubungan dengan calon nasabah yang sudah biasa dengan kredit bank dapat menjadi hambatan atau dengan kata lain usaha yang biasa dengan sistim kredittidak kompatibel dengan watak perbankan syariah.
Untuk menghindari masaalah ini, perbankan syariah wajib mengembangkan sebuah sistim industri yang berbasis syariah.
Industri semacam ini harus merupakan sebuah ibdustri manufaktur yang diniatkan bukan untuk menumpuk harta tetapi membagi hasil antara peserta industri baik manajemen maupun pekerja.
Banyak usahawan yang memiliki usaha atau calon usaha yang sangat layak tetapi sulit mendapatkan pembiayaan.
Pertimbangan menjalankan usaha ini harus feasible yaitu mulai dari pasar yang sepasti mungkin(captive market). Menjadi sub kontraktor dari sebuah industri manufaktur merupakan usaha yang dianjurkan dan kalau dicari mudah mendapatkannya.
Dalam sebuah industri manufaktur moderen, kebutuhan sub kontraktor menrupakan keniscayaan karena dengan menyerahkan sebahagian pekerjaan kepada subkon berarti menekan ongkos produksi dengan kata lain mendapatkan ekstra profit.
Kalau ada pekerja yang dirumahkan dari sebuah industri manufaktur dan mendirikan sebuah usaha sub kontraktor dari industri tersebut akan sangat dihargai. Contoh yang sudah berjalan adalah UKM binaan Astra.
Kalau pasar yang pasti ini dilaksanakan dalam semangat syariah yaitu bagi hasil dan motivasi mendapatkan ridha Allah dalam bekerja, insya Allah perusahaan ini akan sehat dan dinamis, karena didukung oleh pekerja yang memiliki motivasi yan tinggi untuk menghasikan produk yang makin lama makin baik kwalitasnya, makin rendah biayanya dan makin tepat penyerahan barangnya( tidak terlambat)
Peluang ini masih luas terbuka tetapi kita belum menyadari sehingga tidak pernah siap. Selamat berjuang.
Sesuai dengan wataknya yang menyediakan pembiayaan dan bukan kredit berbunga, berhubungan dengan calon nasabah yang sudah biasa dengan kredit bank dapat menjadi hambatan atau dengan kata lain usaha yang biasa dengan sistim kredittidak kompatibel dengan watak perbankan syariah.
Untuk menghindari masaalah ini, perbankan syariah wajib mengembangkan sebuah sistim industri yang berbasis syariah.
Industri semacam ini harus merupakan sebuah ibdustri manufaktur yang diniatkan bukan untuk menumpuk harta tetapi membagi hasil antara peserta industri baik manajemen maupun pekerja.
Banyak usahawan yang memiliki usaha atau calon usaha yang sangat layak tetapi sulit mendapatkan pembiayaan.
Pertimbangan menjalankan usaha ini harus feasible yaitu mulai dari pasar yang sepasti mungkin(captive market). Menjadi sub kontraktor dari sebuah industri manufaktur merupakan usaha yang dianjurkan dan kalau dicari mudah mendapatkannya.
Dalam sebuah industri manufaktur moderen, kebutuhan sub kontraktor menrupakan keniscayaan karena dengan menyerahkan sebahagian pekerjaan kepada subkon berarti menekan ongkos produksi dengan kata lain mendapatkan ekstra profit.
Kalau ada pekerja yang dirumahkan dari sebuah industri manufaktur dan mendirikan sebuah usaha sub kontraktor dari industri tersebut akan sangat dihargai. Contoh yang sudah berjalan adalah UKM binaan Astra.
Kalau pasar yang pasti ini dilaksanakan dalam semangat syariah yaitu bagi hasil dan motivasi mendapatkan ridha Allah dalam bekerja, insya Allah perusahaan ini akan sehat dan dinamis, karena didukung oleh pekerja yang memiliki motivasi yan tinggi untuk menghasikan produk yang makin lama makin baik kwalitasnya, makin rendah biayanya dan makin tepat penyerahan barangnya( tidak terlambat)
Peluang ini masih luas terbuka tetapi kita belum menyadari sehingga tidak pernah siap. Selamat berjuang.
26 Januari 2008
Peran NIAT dalam memulai sebuah bisnis
Ketika mulai menjalankan sebuah usaha, bisnis, industri yang ada dalam kepala orang adalah gambaran keuntungan yang akan diraihnya lewat bisnis itu seiring dengan perjalanan waktu.
Dengan kata lain, niatnya mendirikan usaha adalah untuk mencari keuntungan. Lalu dengan keuntungan itu dia dapat mengumpulkan asset, harta dan materi sebanyak-banyaknya.
Menurut pandangan IMBS, seharusnya niat mendirikan usaha industri tidak hanya sebatas untuk mencari keuntungan, menumpuk asset atau mengumpulkan materi tetapi harus disertai dengan niat untuk berbagi keuntungan itu dengan mitra usaha. Siapa yang layak disebut sebagai mitra usaha ? Ya semua pihak yang terlibat dalam
kegiatan usaha itu. Sebut saja seperti pemilik, pelaksana, karyawan, supplier, pembuat komponen, distributor dsb.
Semangat berbagi inilah yang pada akhirnya akan melahirkan kebersamaan dalam arti yang sesungguhnya dalam diri setiap orang sehingga mereka berkepentingan dengan eksistensi usaha. Dan kegiatan berbagi ini pulalah yang Insya Allah akan membuat tingkat kesejahteraan semua pihak dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Hanya dengan cara demikianlah kiranya, keberadaan usaha dapat dibuktikan memberi manfaat yang jelas dan sangat positif bagi orang lain.
Dengan kata lain, niatnya mendirikan usaha adalah untuk mencari keuntungan. Lalu dengan keuntungan itu dia dapat mengumpulkan asset, harta dan materi sebanyak-banyaknya.
Menurut pandangan IMBS, seharusnya niat mendirikan usaha industri tidak hanya sebatas untuk mencari keuntungan, menumpuk asset atau mengumpulkan materi tetapi harus disertai dengan niat untuk berbagi keuntungan itu dengan mitra usaha. Siapa yang layak disebut sebagai mitra usaha ? Ya semua pihak yang terlibat dalam
kegiatan usaha itu. Sebut saja seperti pemilik, pelaksana, karyawan, supplier, pembuat komponen, distributor dsb.
Semangat berbagi inilah yang pada akhirnya akan melahirkan kebersamaan dalam arti yang sesungguhnya dalam diri setiap orang sehingga mereka berkepentingan dengan eksistensi usaha. Dan kegiatan berbagi ini pulalah yang Insya Allah akan membuat tingkat kesejahteraan semua pihak dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Hanya dengan cara demikianlah kiranya, keberadaan usaha dapat dibuktikan memberi manfaat yang jelas dan sangat positif bagi orang lain.
17 Januari 2008
REVOLUSI INDUSTRI INDONESIA
PendahuluanDalam mengemukakan pendapat tentang Revolusi Industri Indonesia, saya menggunakan tabel yang dikutip dari tulisan yang berjudul : The Industrial Revolution, Past and Future pada http://www.gnxp.com/MT2/archives/002433.html.
Dari tabel diatas ditemukan ada tiga fakta penting yang dapat dijadikan bahan dalam penulisan Revolusi Industri Indonenesia ini.
Fakta pertama, bahwa pendapatan bangsa-bangsa di dunia, nyaris sama sebelum tahun 1750, dan langsung mengalami perbedaan yang sangat menyolok sesudahnya. Perbedaan yang menyolok ini disebabkan oleh sebuah revolusi, Revolusi Industri namanya. Revolusi ini dimulai di Inggris pada pertengahan abad XVIII. Dengan diaplikasikannya mesin uap pada industri tekstil Inggris kemudian dengan mudah ditularkan kepada bangsa-bangsa yang berhasa Inggris seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia dan Selandia Baru. Bangsa-bangsa ini karena sebagai pelopor pelaksanaan revolusi industri, menjadi kelompok bangsa yang paling cepat mengembangkan teknologi dan menjadi kelompok bangsa yang memiliki kekayaan paling tinggi sampai saat ini sebagaimana dapat dilihat pada grafik diatas dengan garis yang berwarna hitam.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari fakta ini adalah, hanya bangsa yang melakukan revolusi industri yang dapat menikmati kemajuan ekonomi.
Fakta kedua, adalah grafik dengan garis berwarna hijau yang mewakili bangsa Afrika dan Asia kecuali Jepang, dimana Indonesia termasuk didalamnya hampir tidak mengalami perubahan sampai tahun 1950 dan hanya sedikit meningkat sejak itu. Bangsa-bangsa ini tidak berkesempatan melakukan revolusi industri karena hampir semua merupakan bekas jajahan bangsa Eropa sehingga tidak memiliki memori sedikitpun tentang revolusi industri. Ekonomi mereka pada saat ini masih seperti kondisi sebelum tahun 1750 yang bertumpu pada pertanian manual dan industri kerajinan yang manual juga, sehingga memiliki produktivitas dan kemampuan membuat nilai tambah yang sangat rendah. Demikian juga dengan Indonesia. Kesimpulan dari fakta ini : jika ingin maju Indonesia harus melakukan revolusi industri sesegera mungkin.
Fakta ketiga adalah grafik dengan warna biru, tentang Jepang yang sudah memiliki memori tentang revolusi industri sejak Restorasi Meiji. Garis biru ini sebelum perang dunia kedua berada pada urutan keempat dalam tabel diatas, namun setelah perang dunia kedua menanjak sangat tajam sehingga hanya dalam kurun waktu 40 tahun yaitu pada tahun 1990 garis biru ini sudah berada pada ranking kedua.
Indonesia selayaknya mengikuti cara Jepang untuk mengejar ketertinggalan dalam bidang industri. Kesimpulan dari fakta ketiga, adalah bila melakukan revolusi industri, Indonesia harus mem- ' bench mark ' apa yang telah ditempuh oleh Jepang dalam mengembangkan industri mereka.
Perjalan Sejarah Revolusi Industri Dunia
Revolusi ini dimulai pada pertengahan abad XVIII di Inggris, dengan tahap awal yang mengganti ketergantungan industri kepada tenaga yang disediakan alam, seperti air, angin, panas matahari, tenaga manusia dan hewan, ke ketergantungan terhadap tenaga buatan manusia yang dimulai dengan mesin tenaga uap, lalu tenaga listrik, nuklir, dll setelah itu.
Tahap kedua ditemukan bahan baku industri strategis seperti besi baja untuk pembuatan mesin, mesin pembuat mesin dan bahan kimia an-organik yang dapat diproduksi oleh manusia menggantikan bahan yang organik yang disediakan oleh alam. Tahap selanjutnya ditemukannya cara berproduksi manufaktur yang memungkinkan terciptanya produk-produk baru, sepreti mobil, televisi, pesawat terbang dll.
Cara manufaktur ini adalah cara berproduksi dengan mengurai sebuah produk dalam bentuk komponen-komponen dan memproduksinya dengan membuat komponen lelu merakitnya. Dengan cara ini dapat dihasilkan produk yang seragam dalam jumlah yang besar sesuai kebutuhan dan kesanggupan menghasilkannya. Cara berproduksi secara manufaktur inilah yang menyebabkan negara industri menjadi kaya. Sebahagian dari kekakyaan ini mereka sisihkan untuk mengembangkan kemampuan kmesin yang kita kenal dengan teknologi, dan dengan bertambahnya kemampuan teknologi mereka menjadi lebih kaya lagi. Perkembangan ini berlangsung secara berulang-ulang ( snow balling ) sehingga kemajuan yang mereka nikmati bertambah terus secara berkelanjutan.
Pemicu terjadinya revolusi industri ini adalah semangat menjadi kaya yang dilahirkan oleh falsafah individualisme yang menganjurkan setiap warga negara untuk menjadi kaya, dan paham materialisme yang berambisi memiliki materi sebanyak-banyaknya, dan menaklukkan alam dengan menciptakan tenaga ciptaan manusia sebagai pengganti tenaga yang disediakan alam yang pada tahap awalnya berupa penemuan mesinn tenaga uap.
Individualisme dlaam situasi peningkatan kekayaan melahirkan orang kaya baru yang memiliki kesempatan yang lebih besar dalam meningkatkan kekayaan melalui sinergi antara kekayaan dan teknologi, yang pada akhirnya melahirkan sebuah kelompok baru orang kaya, yang sekarang kita sebut dengan kapitalis. Mereka melahirkan sistem baru dalam masyarakat, yaitu sistem kapitalisme yang memperkuat posisi mereka dalam masyarakat sampai saat ini.
Kapitalisme inilah yang mengakibatkan distribusi kekayaan dunia menjadi terpusat pada segelintir orang kaya yang menguasai dunia sehingga terjadi jurang antara yang kaya dan yang miskin melebar dan terus melebar yang kini menjadi masalah utama dunia. Disamping itu karena perburuan materi yang berlebih-lebihan mulai mengancam keamanan lingkungan dan mulai rusak, yang mengakibatkan antara lain pemanasan global seperti yang lagi diributkan sekarang ini.
Setelah kalah dalam perang dunia kedua, bangsa Jepang memikirkan cara lain untuk mengungguli bangsa Barat. Mereka melihat peluang itu ada di bidang ekonomi, khususnya dalam bidang industri manufaktur. Falsafah materialisme yang menilai materi lebih penting daripada manusia pada masyarakat barat, mereka robah dengan menempatkan manusia diatas segala-galanya. Falsafah ini sangat dipengaruhi oleh agama Shinto dan cocok untuk bangsa Timur lainnya. Agama-agama lainpun memiliki falsafah yang sama.
Falsafah ini melahirkan kebijakan-kebijakan yang menjadikan kesejahteraan manusia sebagai satu-satunya tujuan yang akan dicapai. Dalam kaitan pelaksanaan kebijakan diatas, dalam praktek mereka menciptakan instrumen-instrumen pemerataan pendapatan dan pelayanan untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan manusia.
Tindakan yag paling menyolok adalah dirubahnya HUBUNGAN BURUH-MAJIKAN ( Labour-Management Relationships ). Pada Industri Barat, antra buruh dan majikan terdapat pertemtangan kepentingan, dimana pengusaha menginginkan biaya buruh serendah mungkin untuk mengejar keuntungan, sedangkan kaum buruh menginginkan pendapatan setinggi mungkin. Kondisi antagonistik ini menguras energi yang cukup besar dalam institusi industri.
Jepang merubah kondisi antogonistik ini menjadi kondisi sinergis, dimana pengusaha dan buruh menyatukan tenaga untuk mencapai kemajuan, dan hasilnya dibagi sesuai dengan perjanjian. Dengan kondisi sinergis ini, pembelaan pekerja Jepang terhadap perusahaan tempat dia bekerja menjadi maksimum.
Seorang guru besar manajemen Amerika bernama Hugh Patrick, ekonom pada Columbia University menggambarkan situasi ini dalam kalimat : In America, employees steal from the firm but in Japan employees steel for the firm. Tindakan selanjutnya adalah pemerataan dalam bidang berusaha. Perusahaan besar Jepang memberikan sebagaian bear pekerjaan berupa komponen kepada perusahaan yang lebih kecil untuk memperoleh keuntungan tambahan karena biaya produksi perusahaan kecil lebih rendah daripada biaya produksi perusahaan besar yang disebabkan oleh perbedaan dalam biaya overhead.
Tindakan pemerataan yang lain adalah pemerataan kepemilikan usaha. Pada umumnya para pendiri perusahaan, tidak memiliki saham mayoritas, bahkan sangat kecil dalam perusahaan. Pemegang saham mayoritas adalah lembaga keuangan yang menjualkan saham perusahaan kepada investor kecil melalui bursa. Sebagai contoh Konosuke Matsushita hanya memiliki saham 3,5 % pada Matsushita Electric Industries, perusahaan yang dibangunnya semenjak dia masih muda. Tindkan selanjutnya adalah memanjakan manusia pelanggan. Bila kita kenal pameo ' pembeli adalah raja ', maka Jepang merubahnya menjadi : ' pembeli adalah dewa '. Untuk itu mereka memberikan pelayanan purna jual untuk meringankan pelanggan dalam memelihara produk yang mereka beli ( S ). Tindakan selanjutnya untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada para pelanggan adalah dengan menyediakan barang yang makin lama makin baik mutunya ( Q ), makin rendah biayanya ( C ), dan makin tepat penyerahan barangnya baik dalam waktu maupun jumlah kepada manusia pelanggan ( D ). Tindakan-tindakan ini yang terkenal di Jepang dengan istilah QCDS.
Bila Anda seorang muslim, Anda akan mengatakan bahwa industri Jepang adalah industri yang islami.
Jika Indonesia ingin memajukan ekonominya, tiada lain jalan dengan membangun industri manufakturnya, bukan industri handycraft, mem-bench mark teknik Jepang yang islami ini. Sudah tentu kita harus menambahkan sesuatu yang sangat penting didalamnya, yaitu ' tauhid '.
Bila kita sudah memasukkan unsur tauhid kedalam falsafah industri hasil revolusi kita, maka semua stake holder akan mekiliki motivasi hanya mencari ridho Allah dan bukan untuk memperkaya diri. Pekerja kita akan memiliki motivasi tertinggi di dunia dan Insya Allah industri kita akan menempati posisi saing tertinggi di dunia.
Dengan memasukkan unsur tauhid kedalam pelaksanaan industri manufajtur kita, maka tibalah kita pada sebuah doktrin Industri Manufaktur Berbasis Syariah ( IMBS ).
Kesimpulan akhir dari tulisan ini adalah bahwa Indonesia harus segera melakukan revolusi industri dengan landasan dasar doktrin Industri Manufaktur Berbasis Syariah, yang akan menjadi pasangan sinergis yang sangat kompatible dengan sistem perbankan syariah kita.
Langganan:
Postingan (Atom)
